Kamis, 21 April 2011

Krisis Utang Hantui Amerika


Utang pemerintah Amerika Serikat yang terus menggunung dikhawatirkan membuat negara tersebut kembali terjerumus ke dalam resesi yang kedua setelah resesi 2008 (double-dip recession).

Utang pemerintah Amerika Serikat mencapai US$12 triliun, dikhawatirkan hal ini akan membuat negara adikuasa itu kembali terjerumus ke dalam resesi kedua setelah resesi 2008 (double-dip recession).

"Potensi krisis utang di sana otomatis besar," ungkap A. Tony Prasetiantono, ekonom dari Universitas Gajah Mada, Rabu lalu (28/12). Itu lebih besar dibandingkan rasio utang terhadap PDB Indonesia yang hanya sebesar 27 persen.

Rasio utang terhadap PDB Amerika yang mencapai 82,7 persen itu terjadi karena Amerika menyelamatkan perekonomian dengan mempertinggi defisit anggaran negara. Defisit lantas ditutup dengan menciptakan utang baru lewat obligasi negara.

Dijelaskan Tony, Amerika sempat menurunkan suku bunga agar konsumsi dan produksi barang naik. Sayang, langkah ini gagal, karena konsumsi tak juga bergerak.

Kebijakan fiskal dengan menaikkan pajak atau utang baru adalah satu-satunya pilihan setelah kebijakan moneter gagal. Namun, menaikkan pajak di tengah kesulitan ekonomi bukan cara bijak.

Konsolidasi fiskal juga disarankan Dana Moneter Internasional (IMF) dalam World Economic Outlook Oktober 2010 untuk mengamankan anggaran negara.

Hantu krisis utang ternyata tak hanya milik Amerika, namun juga menghantui negara-negara lain di Eropa, seperti Yunani, Italia, dan Belgia dengan rasio utang lebih dari 100 persen PDB.

Negara-negara Eropa lainnya belum aman, karena rasio utang Irlandia, Portugal, dan Prancis di atas 80 persen. "Padahal, rasio utang terhadap PDB yang aman sekitar 30 persen," jelas Tony.

Bahkan Yunani dan Irlandia, sudah menengadahkan tangan meminta bantuan dana kepada Uni Eropa dan Dana Moneter Internasional (IMF).

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates